Kenali Cara Belajar Setiap Anak Agar Hasilnya Sesuai Harapan

Yuk, kenali cara belajar anak! Setiap anak tentu punya karakter yang berbeda dan akan mempengaruhi pola belajar dan pengajaran dari orang tua. Pemahaman yang baik dari orang tua sangat menentukan hasilnya.

Pernah suatu waktu saya galau luar biasa. Galau bukan karena urusan rumah tangga, suami, ataupun pekerjaan, tapi galau karena catatan ini:

Kenali Cara Belajar Anak

‘Nathan tidak bisa mengerjakan dictation test atau spelling test. Istilah gaul waktu saya SD dulu (iya SD) adalah ‘belajar dikte’. Guru mengucapkan suatu kalimat dan si murid menuliskannya. Jelas tertulis di buku tersebut, si guru meminta orang tuanya Nathan memberi support…Iya, support supaya Nathan diajarkan ‘dikte’. Mak jleb…..lagi-lagi sebagai ibu pekerja, sempat saya menyalahkan diri sendiri. Ini kali ya nasib anak yang ditinggal ibunya kerja.

Sebetulnya saya berkomitmen untuk sebisa mungkin tidak memaksa Nathan belajar calistung. Saya ingin semuanya mengalir, tanpa ada paksaan, dan yang terpenting anak senang. Mungkin ada yang mendeskripsikan posisi saya, “Gurunya ajalah yang susah ngajarin di sekolah. Gw sih main aja sama anak habis pulang kerja.” Nggak, nggak gitu jugalah….hehehe…

Sesungguhnya saya penasaran, masa iya Nathan tidak bisa. Entah kenapa saya yakin Nathan bisa didikte, tapi ogah menuliskannya. Saya pun jadi berpikir gimana ya kenali cara belajar anak.

Memenuhi rasa penasaran, tes hari pertama pun dimulai. Saya mendikte tulisan yang ada di buku sekolah dan meminta Nathan menuliskannya. Ternyata, banyak sekali alasan Nathan untuk tidak mau menulis. Minta makan, ambil mainan, minum susu, lari ke luar rumah karena dengar suara moge tetangga sebelah, dan lari sana sini. Dannnn….semuanya pun berhasil. Iya, saya berhasil menerima polah Nathan itu dan tidak memaksanya. Tidak ada satu kata pun yang dia tulis.

Hari ke-2. Sudah saya siapkan pensil dan buku dengan gambar tokoh kesukaannya “Adit dan Bang Jarwo”. Nathan duduk manis, memegang pensil, dan siap mendengarkan saya. “Yuk Nathan, kita nulis “She is a girl”.” Kata Nathan sambil tetap memegang pensil, “Nathan nggak suka nulis, Ma. “OK, tapi tahu nggak huruf untuk “She is a girl”, tanyaku. Langsung dijawab Nathan dengan gaya yang diajarkan di sekolah, “Es eih ei ih es a geh ih ar l”. Nah loh, Nathan ternyata tahu huruf yang dimaksud, tapi tidak mau nulis. Tes kalimat-kalimat yang lain, Nathan bisa mengejanya dengan sempurna. Ternyata Nathan tahu kalimat itu dan paham hurufnya. Catatan malam ini, Nathan tetap tidak mau menulis dan saya berhasil untuk tidak memaksanya menulis.

Hari ke-3. Setelah nonton film di hape, saya minta Nathan menyimpannya di tempat yang hanya dia yang tahu. Sip, Nathan pun mau. Baru menulis satu kata “She” yang bentuknya naik turun gunung, Nathan langsung tidur pulas tanpa babibu. Oke, lagi-lagi saya tidak mau memaksa karena kebetulan hari itu Nathan tidak tidur siang.

Malam ini kegalauan saya bertambah setelah membaca ini:

Kenali Bagaimana Cara Belajar Setiap Anak

Iya, Nathan diminta datang ke sekolah setiap Sabtu dan selama 30 menit review pelajaran. Tidak siap menerima kenyataan, saya pun browsing sekolah sana-sini dan berniat memindahkan sekolah Nathan. Gile aja, masa anak gw kena review. Gile aja nih sekolah, maksain banget sih anak baru sebulan sekolah TK B, kudu bisa calistung…. Pun tengah malam terbangun, Nathan bilang “Ma, kapan sih libur lagi?” Jawabku, “Sabar ya, memangnya di sekolah kenapa?” Jawab Nathan, “Bilang Ms, Nathan nggak suka nulis, Ma. Nathan sukanya dramatic play aja. Main, prosotan, lari-lari, petak umpet…” Jawabku, “Ok, sekarang Nathan tidur dulu.” Nggak perlu dibahas panjang kali lebar kannnnn….karena mamanya juga sudah ngantuk.

Galau ini terus bergelayut sampai keesokan harinya dan jadinya cenderung menyalahkan sekolah.  Saya pun browsing sekolah seputaran Cibubur, cari sekolah yang tidak menekankan anak belajar calistung, dan berniat cari sekolah kekinian yang berbasis karakter. Terus berlanjut rasa penasaran ini hingga malam ke-4. Betul-betul penasaran, karena saya yakin Nathan mengerti kalimat yang didikte dan tidak mau menuliskannya. Dari kantor saya sudah niat untuk sedikit melanggar komitmen, yaitu memberi Nathan reward berupa permen. Bagi Nathan, permen adalah suatu barang yang sangat spesial karena saya tidak pernah membelikannya dengan alasan klise akan membuat gigi rusak. Nathan tahu persis itu. “Nanti Mama kasih hadiah 5 permen buat Nathan, tapi Nathan nulis sebentar ya,” bujukku. Langsung Nathan siap siaga dan menjawab lantang “Iya”. Nathan pegang pensilnya dan mendengarkan diktean saya. Inilah hasilnya:

Kenali Cara Belajar Anak

Saat diminta untuk membacanya, ia bisa mengucapkannya dengan lantang. Thank God, saya banyak belajar. Tidak memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak dia senangi atau memberi reward spesial, misalnya, perlu diterapkan dalam beberapa hal. Dan yang lebih membuat saya senang, saya berhasil sabar! Sebelumnya pernah menggunakan berbagai cara paksaan, termasuk bentakan….Hikss..jadi malu… Sebetulnya saya yang harus banyak belajar kenali cara belajar anak, terlebih Nathan yang anak sulung. O ya, akhirnya Nathan hanya datang 1 kali saja untuk review di sekolah karena dianggap gurunya sudah ada kemajuan. Ah, proud mom 🙂 Yuk mommies, kita perbanyak ‘tabungan’ sabar untuk kenali cara belajar anak yang kita sayangi.

 

Related posts:

One thought on “Kenali Cara Belajar Setiap Anak Agar Hasilnya Sesuai Harapan

  1. Konsep sekolah TK atau usiadini saat ini sudah banyak yang SALAH KAPRAH. Pada usia 3-7 tahun seharusnya bermain sambil belajar. Mengutip pernyataan KH Dewantoro, bahwa sekolah adan Taman siswa . Disebut taman, karena identik dengan tempat bermain bukan tempat menggonjlok anak harus bisa calistung, tapi lebih ditekankan pada pendidikan karakter.

    Dalam kasus Nathan, kalau saya lihat dia sudah sangat bagus banget karena bisa menulis dalam bahasa Inggris dengan cara di dikte. Anak saya mungkim saat itu tidak sepandai Nathan. Mereka baru belajar dikte kelas 2 SD itupun dikte dalam bahasa Indonesia. Jadi jangan galau dan jangan terlalu dipaksa ya…Mam!

    Saya punya pengalaman memiliki 2 orang anak yang sudah melewati masa pendidikan usia dini, dan mereka baik-baik saja. Mereka bisa juara di saat duduk di bangku SD. Walaupun Pembelajaran yang sederhana di saat di bangku TK, tidak sampai membuat mereka stress, mereka enjoy!

    Kita tentu sebagai orang tua ingin yang terbaik buat buah hati kita karenanya sebagai orangtua juga kita harus bisa memilah-milah sekolah yang pas buat anak. Jangan karena sekolah favorit dan setelah tamat TK bisa fasih bahasa Inggris kita terjebak dengan iklan sekolah yang hanya mementingkan NILAI dan target.

    Pendidikan agama, budi pekerti, budaya, sopan santun adalah lebih utama pada usia dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *