Menemukan Waktu yang Tepat untuk Menasehati Anak

Suasana tenang saat menasehati anak Menemukan waktu yang tepat untuk menasehati anak, terlebih saat polah mereka yang terkadang membuat kita tidak bisa menahan emosi, sangat mempengaruhi hasil yang kita harapkan.

Tiba di rumah hari ini pukul 18.30. Baru sampai di parkiran, Nathan mengintip di jendela dan langsung lari. Aku pikir Nathan akan sembunyi, hal yang biasa ia lakukan jika saya dan papanya pulang kerja. Begitu buka pintu, Ulfa mbak kami yang baru 3 hari bergabung di rumah, menangis kencang kesakitan.

Hmmm….kenapa lagi Nathan, pikirku. Aku cari Nathan, ternyata dia sudah meringkuk ketakutan di balik pintu. Seperti ada yang mengingatkan, saya pun menarik napas dalam dan tidak mengeluarkan kata sedikit pun kepada Nathan. Hanya memandang Nathan yang masih diam duduk di lantai di balik pintu kamar bawah. Tarik nafas lagi, saya segera pergi. Ternyata Ulfa menangis karena kepalanya ditarik Nathan dari belakang dan digulat. Gulat, iya permainan gulat yang menurut Nathan ‘hanya main’, tapi membuat kita yang digulat kesakitan dan bisa sesak napas karena bobotnya saat ini yang mencapai 30 kg. Papanya yang sebentar lagi tiba di rumah pun sudah saya beritahu untuk kompak tidak usah menyapa Nathan terlebih dulu. Tujuannya supaya Nathan semakin merasa telah melakukan suatu kesalahan.

Selesai mandi, Nathan ternyata sudah menunggu di kamar. Saya masih diam, tidak memandang ke arahnya. Tapi Nathan bilang, “Ma, Nathan sudah say sorry sama Mbak Indah”. Hmm…bagus, pikir saya. Tindakan permintaan maaf biasanya dilakukan Nathan setelah dipaksa. Saya sengaja tidak menyapa Nathan karena kondisi emosi belum stabil. Sudah niat juga, daripada memarahi atau berteriak seperti biasa, kali ini saya berniat untuk benar-benar menahan diri.

Saat sedang berdiri di dapur, Nathan menghampiri…..langsung memeluk saya sambil menangis dan bilang, “Ma, Nathan sudah say sorry dengan Mbak Ulfa”. Kata saya, “OK good, tapi Mama belum mau ngomong dengan Nathan.” Nathan pun pergi meninggalkan saya. Kukonfirmasi ke Ulfa, betul memang dia sudah minta maaf. Good boy.

Hingga akhirnya papanya mengajak Nathan duduk di tengah-tengah kami. Papanya mulai menasehati dan Nathan mendengarkan dengan baik. Seperti biasa, kalau diajak diskusi seperti ini, Nathan akan membalik-balik pertanyaan sesuai logikanya. Ya, logika yang terkadang benar adanya. Gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Melihat kondisi Nathan yang sudah stabil, saya pun mengajaknya mengerjakan PR di hari pertamanya masuk sekolah hari itu.

Saya jadi sadar, sebaiknya memang harus menahan mulut jika ingin mengajarkan sesuatu kepada Nathan. Menahan mulut, menahan emosi, menjauh darinya, sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Dengan menemukan waktu yang tepat untuk menasehati anak, termasuk mendiamkan dan menjauhinya sejenak, membuat Nathan sadar bahwa dirinya salah. Dengan kondisi emosi saya dan papanya yang sudah stabil, kami pun bisa memberi nasihat dalam suasana yang enak. Bukan dengan teriakan atau ancaman yang biasanya saya lakukan. Semoga ini pelajaran berarti buat saya untuk mengendalikan emosi dan memberi tahu ke anak dengan cara yang lembut. I love u, Nathan.

 

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *