Salahkah Orang Tua Saat Memasukkan Anak ke Sekolah di Usia Dini?

Sekolah Usia Dini

Ada anggapan bahwa orang tua salah jika memasukkan anak ke sekolah di usia dini.

Tepat di usia Nathan 2,8 tahun, saya dan suami memberanikan diri untuk memasukkan Nathan si sulung ke sekolah PAUD. Pastinya ada yang beranggapan kalau usia tersebut masih terlalu dini untuk memasukkan anak ke sekolah. Dikhawatirkan anak akan cepat bosan di kemudian hari, lebih bagus anak bermain di rumah, lebih bagus ibu yang mendidik anaknya, otak anak belum siap, dan sederet anggapan-anggapan lain pada umumnya. Well, setelah mempertimbangkan masukan-masukan tersebut, saya dan suami pun memutuskan Nathan masuk PAUD.

Alasan klise dan berhasil meracuni saya adalah anak butuh bersosialisasi lebih luas supaya tidak hanya bermain dengan mbaknya. Saat itu, alasan tersebut ada benarnya buat saya yang sudah bekerja sejak Nathan berumur 4 bulan. Di rumah hanya dengan mbaknya saja. Main dengan anak tetangga pun terbatas hanya itu-itu saja jenis permainannya. Tapi saya sadar, yang lebih memantapkan kami memutuskan adalah kemampuan Nathan saat itu dalam berkomunikasi, termasuk mengutarakan pendapatnya dengan jelas. Jelas baik suara maupun pesan yang ingin dia sampaikan (duh, serasa belajar ilmu komunikasi ūüôā).

Mencoba trial di beberapa sekolah di lokasi sekitar rumah, kami pun menjatuhkan pilihan sebuah sekolah di dekat rumah.

Saya dan suami seiya sekata untuk rela kehilangan uang pendaftaran kalau ternyata menurut kami Nathan tidak suka sekolah. Mulai dari hari pertama sekolah hingga setahun, bisa dibilang semuanya berjalan lancar. Di hari pertama masuk Nathan sudah bisa dan berani duduk sendiri tanpa saya dampingi. Padahal saya sendiri ingin sekali masuk alias kepo untuk melihat aktivitas yang dilakukan di dalam kelas. Hari-hari selanjutnya, tidak terlihat Nathan stres, capek, ataupun hal-hal lain yang mengganggu pertumbuhannya.

Seiring berjalannya waktu hingga 3 tahun kemudian Nathan duduk di TK B, saya kok tiba-tiba tersadar kalau keputusan menyekolahkan Nathan sejak dini itu sebenarnya¬†tergolong ‚Äėpercobaan‚Äô. Kalau anaknya tidak betah, ya sudah gpp uang pendaftaran hangus. Yang penting, mudah-mudahan si anak jadi gampang bersosialisasi….mudah-mudahan anak cepat pintar….mudah-mudahan anak jadi cepat mandiri…dan sederet ‘mudah-mudahan’ atau ‘kalau’ lain sebagai kamuflase untuk yang namanya¬†PERCOBAAN.

Teringat, waktu itu ya memang betul saya baru belajar jadi orang tua. Belajar menggendong, menyusui, menyuapi, memakaikan baju, memandikan, dan sederet pengenalan lainnya. Untuk memutuskan sesuatu, saya berbekal sederet informasi hasil tanya sana sini dan browsing ini itu. Barulah kemudian memutuskan sesuatu untuk anak. Begitu juga waktu memutuskan masuk sekolah, yang dipertimbangkan jam sekolah, lokasi, makan, biaya, siapa yang antar jemput, dan segala macam hal lainnya. Untuk ini, pasti insting seorang ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, kan?

Terlepas dari menjadikan anak sulung sebagai wadah pembelajaran atau ‘kelinci percobaan’, saya jadi belajar bahwa orang tua tidak akan asal mengambil keputusan karena yang dipertaruhkan adalah kebaikan anaknya. Orang tualah yang paham betul akan diri anak. Namun demikian, tetaplah kita harus melek informasi supaya bukan kemauan pribadi saja yang mendominasi suatu keputusan. Iya, nggak?

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *