Siapa Bilang Mengurus Paspor Susah?

 

imigrasi
Antrian di Kantor Imigras

Sebagai persiapan suatu saat nanti entah kapan melancong entah ke mana ke luar negeri bersama tiga lelaki di rumah, maka saya pun membuatkan paspor untuk Philip. Abangnya sendiri, Nathan, sudah saya buatkan di saat usianya 2 tahun. Setelah mendaftarkan via online terlebih dulu, transfer biaya Rp355 ribu, dan kemudian baca-baca di portalnya imigrasi, berikut dokumen yang harus dilengkapi jika anak masih di bawah umur (di bawah 17 tahun):

1. KTP orang tua yang masih berlaku. Ingat, hasil fotokopinya jangan dipotong ya! Biarkan dalam ukuran asli A4. Kemarin fotokopi KTP saya dipotong seukuran KTP, jadilah pergi mencari tukang fotokopi untuk kopi ulang.

2. Kartu Keluarga.

3. Akte kelahiran anak atau surat baptis.

4. Akte perkawinan atau buku nikah orang tua.

5. Paspor orang tua. Kemarin saya hanya menyerahkan fotokopi paspor saya saja (catat: karena ibunya yang mengurus), diperbolehkan kok.

6. Surat pernyataan orang tua bahwa akan bertanggung jawab terhadap keberadaan paspor anak, ditandatangan di atas materai oleh kedua orang tua.

Jangan lupa, semua dokumen tersebut dibawa dokumen asli dan fotokopinya masing-masing. Enaknya mendaftar via online, saya cukup datang 2 kali. Yang pertama untuk pengambilan foto dan wawancara, yang ke-2 untuk pengambilan paspor. Semua proses tersebut saya lakukan di kantor imigrasi Jakarta Selatan karena lokasinya dekat dengan kantor.

syarat-paspor
Form Persetujuan untuk Anak

Persyaratan dokumen no 1-5 sudah lengkap saya siapkan, baik dokumen asli maupun fotokopi. Nah, khusus persyaratan no.6, saya baru tahu di lokasi. Apalagi ternyata yang tanda tangan harus kedua orang tua si anak, tidak bisa hanya saya sendiri. Akhirnya saya pun memaksa suami yang berkantor di Pondok Indah untuk segera naik ojek menuju Mampang, hanya untuk menandatangani dokumen tersebut. Jadi, kalau mau membuat paspor anak sebaiknya ambil dulu formulir izin orang tua tersebut sebelum datang ke lokasi atau datang langsung berdua….karena itu anak berdua, kan….hehehe… Setelah menunggu hampir 1,5 jam, akhirnya suami datang dan menunaikan tugasnya dengan baik dan benar.

Selama menunggu 1,5 jam itu sebetulnya saya galau karena mendapat nomor urut 3-310, sedangkan antrian saat saya datang baru 2-093. Alamak, kebayang kan harus nunggu 200 orang untuk foto balita.

Kebayang jam tidur karena Philip memang sudah waktunya tidur, menyusui, apalagi begitu ada panggilan telepon dari kantor…makin tambah deg-degan. Eh iseng tanya ke bagian informasi, ternyata ada priority pass untuk anak balita dalam proses pembuatan paspor ini. Uuhhh…rasanya seneng banget.
Begitu suami tanda tangan surat izin tadi, hanya menunggu 5 menit, langsung deh difoto.

arena-bermain
Mini Playground

Bersyukur juga karena ada mini playground dan ruang menyusui di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ini. Selama menunggu 1,5 jam, Philip bebas dan asyik bermain di situ dan saya pun bisa menyusui dengan aman dan nyaman di ruang menyusui yang juga nyaman dan bersih.

ruang-menyusui
Ruang Menyusui

Menunggu selama 3 hari sejak difoto, akhirnya paspor anak batita saya ini pun jadi…Horeee. Semua proses bisa kita lakukan sendiri, suasana di kantor imigrasi juga teratur dan rapi, tidak perlu berdesakan,ada fasilitas bermain anak dan ruang menyusui, dan pastinya tidak perlu bayar calo seperti yang dulu saya lakukan untuk mengurus paspor pertama kali.

Jadi siapa bilang mengurus paspor susah ?

Related posts:

One thought on “Siapa Bilang Mengurus Paspor Susah?

  1. Waah Phillip mau jalan2 kemana . Nice sharing. Ngurus paspor perjuanganya adalah di kelengkapan document dan antrian. Tapi menyenangkan saat ada antrian khusus Balita. Senang nya diprioritasin. Kasian lama nunggu nya. Btw saya juga baru perpanjang paspor baru. Di Imigrasi Tasikmalaya biar antriannya lebih cepat. Di bdg sama kayak Jakarta, persaingan ketat. Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *